24 September 2018
KRAS Bidik Ekspor US$100 Juta

JAKRTA – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. membidik nilai ekspor hingga US$100 juta sepanjang 2018 sejalan dengan upaya perseroan memperluas pasar ke luar negeri dan mengejar laba pada akhir tahun ini.

Silmy Karim, Direktur Utama Krakatau Steel, mengungkapkan nilai ekspor yang dikantongi perseroan mencapai US$77 juta sampai dengan pekan kedua September 2018. Jumlah itu belum termasuk dari anak usahanya, PT Krakatau Posco.

Menurut Silmy, produsen baja pelat merah itu mengekspor produknya ke Malaysia dan Australia. Emiten berkode saham KRAS itu optimis dapat memperluas pasar ekspor sampai dengan akhir 2018.

“Rasanya [nilai ekspor samapi akhir tahun] US$100 juta bisa,”ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Direktur pemasaran Krakatau Steel Porwono Widodo mengatakan kebijakan dumping baja asal indonesia di Australia telah berakhir. Dengan demikian, penjualan ke Negeri Kanguru telah berjalan normal.

Purwono menyebut volume penjualan ke Australia sudah mencapai ribuan ton. Sebelumnya, jumlah yang dikirim hanya dalam kisaran ratusan ton.

Dia mengatakan akan menggenjot penjualan ekspor di tengah menguatnya nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah. Apalagi, beberapa Negara pemasok terkena pembatasan.

“Kontribusi ekspor bisa mencapai 10% - 15% tetapi kami masih memiliki potensi lebih besar,” paparnya.

Di dalam negeri, Purwono menuturkan KRAS akan mengoptimalkan jaringan distribusi yang dimiliki dan menambah distributor di sejumlah wilayah pada semester II/2018.

Perseroan mengestimasi tingkat pertumbuhan penjualan akan terjaga di level dua digit atau sekitar 20% pada kuartal II/2018 sejalan dengan kebijakan pemerintah memperketat impor baja.

Pada semester I/2018, volume penjualan KRAS naik 24,44% secara tahunan menjadi 1,04 juta ton. Tahun ini, volume penjualan yang dibidik sebanyak 2,8 juta ton atau naik 40% dari target 2017.

Di sisi lain, harga jual hot rolled coil (HRC) tercatat tumbuh dari US$640 hingga US$680 per ton pada kuartal I/2018 menjadi US$740 per ton pada awal juni 2018. Harga jual rat-rata HRC meningkat 12,52% secara tahunan menjadi US$660 per ton.

Sepanjang paruh pertama 2018, pendapatan KRAS naik 34,75% secara tahunan menjadi US$854,27 juta. Adapun, rugi bersihnya turun 71,76% year to date menjadi US$16,01 juta.

Secara terpisah, Managing Director Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LM FE UI) Toto Pranoto menyarankan agar KRAS menjaga momentum kerjas sama dengan mitra joint venture Korea Selatan dan Jepang.

Hal tersebut agar rencana peningkatan kapasitas dan penghiliaran (downstream) produk dapat terlaksana sesuai target.

“KRAS kelihatannya sudah on the track dalam proses restrukturisasi bisnis,” jelasnya.

sumber :Bisnis Indonesia, 24 September 2018

 Dilihat : 1093 kali