18 September 2018
Ekspor Baja Melonjak 94%

Ekspor Baja Melonjak  94%

JAKARTA-Ekspor besi dan baja sepanjang Januari-Agustus 2018 melonjak 94% menjadi US$ 3,62 miliar (Rp 52, 17 triliun), dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 1,86 miliar. Sepinya pasar besi dan baja dalam negeri dan melemahnya nilai tukar rupiah dimanfaatkan pelaku industri untuk menggenjot ekspor.

“Lonjakan ekspor ini pasti ada sesuatu yang memacu. Pasar domestik yang sedang lemah membuat pengusaha memilih mengalihkan produknya ke pasar ekspor,” kata Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Besi dan Baja (IISIA) Yerry Indroes kepada Investor Daily, Senin (17/9).

Pada saat yang sama, lanjut dia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga terus melemah, yang membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mendapat keuntungan kebih besar. “Ini menjadi memontum yang dimanfaatkan pelaku usaha dengan meningkatkan ekspornya,” tambah dia.

Yerry mengatakan, industri besi dan baja domestik memiliki ruang yang cukup besar untuk menaikkan produksi dan menambah ekspornya. Pasalnya, utilisasi industri besi dan baja nasional saat ini baru sekitar 60%.

Sementara itu, impor besi dan baja juga mengalami peningkatan sepanjang Januari-Agustus 2018. Berdasarkan data yang rilis Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin, impor komoditas bernomor HS 72 ini naik 32,68% dari US$ 4,81 miliar menjadi US$ 6,38 miliar selama delapan bulan 2018.

“Kalau dari segi kapasitas produksi nasional, harusnya impor tidak boleh melonjak karena utilisasi kita masih rendah. Jadi kalau impor naik pasti ada sesuatu,” terang dia.

Meski demikian, dia belum bisa memastikan apakah kenaikan impor tersebut akibat meningkatnya proyek infrastruktur di dalam negeri atau akibat merembesnya impor baja yang tidak sesuai kebutuhan. “Karena masih ada permasalahan impor baja paduan (alloy steel) yang menahun dan belum juga bisa diselesaikan, dan juga kebijakan post border yang bisa menjadi jalan masuk bagi impor baja-baja yang tidak sesuai ketentuan,” ungkap dia.

Menurut Yerry, pihaknya telah mengusulkan kepada pemerintah untuk memberlakukan tindak pengamanan terhadap praktik perdagangan tidak sehat (unfair trade) terhadap baja impor dari beberapa Negara.

Indonesia Iron and Steel Association (IISIA) mengindikasikan, sekitar 25-30% dari impor baja yang dilakukan merupakan bagian dari praktik perdagangan tidak adil (unfair trade) berupa pelarian nomor HS. Praktik ini menyebabkan produsen baja lokal sulit bersaing di pasar dalam negeri.

Ketua IISIA Mas Wigrantoro Roes Setiyadi sebelumnya mengatakan, sejak Tiongkok memangkas produksi dan mengurangi ekspornya, hanya Indonesia yang mencatatkan kenaikan impor terus menerus. IISIA mencermati, kenaikan impor bukan hanya karena kebutuhan, melainkan juga praktik pelarian nomor HS.

Mas Wigrantoro mengungkapkan, rata-rata kenaikan impor baja paduan setelah diberlakukannya Permendag 22 Tahun 2018, mencapai 60%. “Kita lihat lagi kenaikan impornya, ternyata baja paduan yang naik. Padahal itu kan tertentu kebutuhannya, sinyal pengalihan nomor HS semakin terbukti,” kata Mas Wigrantoro.

Menurut dia, kebutuhan baja paduan hanya sekitar 10% dari total kebutuhan nasional yakni 1,3-1,4 juta ton per tahun. Sementara baja paduan yang diimpor mencapai 40% dari total kebutuhan dalam negeri. Padahal kebutuhan baja paduan biasanya sangat spesifik dan lebih dari sekadar boron ataupun krom.

“Kalau butuhnya hanya 10%, tapi impornya mendominasi sampai 40%, berarti sisanya pengalihan. Makannya kami ingin perketat impor, harus ada data agar bisa discreening dari awal. Kalau benar baja yang untuk kebutuhan dalam negeri, komponennya bukan hanya krom dan boron, pasti ada yang lain,” terang dia.

Mas Wigrantoro menegaskan industri baja dalam negeri hanya menguasai pasar 45-50%, sementara sisanya impor. “Penguasaan pasar tersebut tidak bisa bertambah salah satunya karena maraknya praktik unfair trade,” ujar dia.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartato menegaskan, pemerintah bertekad untuk melindungi pasar industri baja di dalam negeri dari serbuan produk impor seiring dengan peningkatan kapasitas produksi di tingkat global. Untuk itu, diperlukan upaya sinkronisasi kebijakan yang berpihak kepada industri baja nasional, mengingat potensi pasar domestik yang masih prospektif ke depannya.

“Apalagi, sebagai komponen dasar pertumbuhan ekonomi di setiap Negara, industri baja disebut sebagai the mother of industries yang merupakan tulang punggung bagi aktivitas sektor industri lainnya, seperti permesinan dan peralatan, otomotif, maritim, serta elektronik,” kata Menperin.

sumber : Investor Daily - 18 September 2018

 Dilihat : 1800 kali