01 Agustus 2018
Pendapatan Krakatau Steel Tumbuh 34,75%

Oleh: Grace Eldora

Jakarta- PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 34,75% menjadi US$ 854,27 juta hingga semester I-108, dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 633,97 juta.

Meski pendapatan bertumbuh, perseroan masih membukukan rugi periode berjalan mencapai US$ 16,01 juta hingga semester I-2018, dibandingkan periode tahun lalu dengan kerugian US$ 56,70.

Senior vice President Head of Corporate Secretary Krakatau Steel Suriadi Arif mengatakan, kenaikan penjualan didukung atas peningkatan volume penjualan sebesar 24,44% menjadi 1,04 juta ton. “Satu faktor pendukung peningkatan pendapatan di semester lalu adalah kenaikan harga jual dari produk baja hot rolled coil (HRC),” jelas Direktur Utama Krakatau Steel Mas Wigrantoro Roes Setiyadi pada keterangan resminya, kemarin.

Harga jual HRC meningkat dari US$ 640-680 per ton di kuartal I-2018 menjadi US$ 740 per ton di awal Juni 2018. Harga jual rata- rata HRC meningkat 12,52% menjadi US$ 660 per ton hingga semester I-2018, dibandingkan dengan periode sama di tahun lalu sebesar US$587 per ton.

Perseroan mencatat penjualan HRC sebagai penyumbang utama pendapatan disusul cold rolled coil (CRC), dan long product. Volume penjualan HRC juga naik sekitar 47,10% menjadi 576.652 ton, CRC meningkat 9,71% menjadi 288.608 ton, dan long product sebesar 4,27% menjadi 141.824 ton.

Sementara Direktur Pemasaran Krakatau Steel Purwono Widodo mengatakan, perseroan memacu volume penjualan di tengah tingginya impor porduk baja dan unfair trade di pasar domestik. Hal ini dipicu atas peningkatan volume impor baja paduan dari RRT sebesar 59%, dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

 “Peningkatan impor tersebut hanya terjadi di Indonesia, sementara pada negara ASEAN lainnya, hal tersebut tidak terjadi. Impor baja paduan RRT di negara ASEAN justru mengalami penurunan volume signifikan, karena RRT melakukan pemangkasan kapasitas produksi,” tegas Purwono.

Ia melanjutkan, penyalahgunaan kategori pos tarif baja paduan, praktek circumvention yang dilakukan oleh eksportir RRT dan kebijakan pemerintah untuk menghapus ketentuan Pertimbangan Teknis melalui Permendag 22/2018 sangat berdampak pada industri baja dalam negeri. Pihaknya berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali Permendag tersebut dan mendukung industri baja domestic

Perseroan mulai memperkuat kembali sistem distribusi produk dengan menambah distributor atau agen penjualan. Perseroan juga terus meningkatkan long term supply agreement (LTSA) dan menggencarkan sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk proyek- proyek strategis.

Data dari World Steel Dynamics pada Mei 2018 menyebutkan, produksi baja global akan naik 11% hingga 1,85 miliar ton di Juni 2018 dan permintaan akan produk baja terus mengalami penginatan maksimal 5% secara YoY. Harga baja domestik pun akan mengikuti fluktuasi dari harga baja global yang diperkirakan akan terus mengalami tren kenaikan, mengikuti kebaikan harga baja di RRT hingga Oktober 2018 nanti.

Disisi lain, perkembangan proyek strategis perseroan tengah mengerjakan pembangunan fisil pabrik baja Canai Panas 2 (hot strip mill/ HSM 2). Pengerjaan telah mencapai 76,23% per 30 Mei 2018 lalu. Pabrik HSM 2 tersebut akan menambah kapasitas produk HRC perseroan sebesar 1,5 juta ton per tahun dan akan mulai beroperasi pada kuartal III-2019.

Pada sisi anak perusahaan, pembangunan Bendung Cipasauran milik PT Krakatau Tirta Industri (KTI) telah selesai yang akan menambah pasokan air baku sebesar 750 liter per detik. Sehingga kapasitas suplai air industry dari fasilitas wter treatment plant (WTP) milik KTI dapat ditingkatkan dari 1.800 liter perdetik menjadi 2.400 liter per detik. Produsen baja tersebut memiliki kapasitas produksi 3,15 juta ton per tahun.

Sumber : Investor Daily 31 Juli 2018

 Dilihat : 2257 kali