20 Juli 2018
Volume Penjualan KRAS Naik 25%

JAKARTA – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. membekukan pertumbuhan volume penjualan hingga 25% secara tahunan pada semester I/2018 sejalan dengan upaya perseroan menggenjot distribusi pada 2008.

Direktur Pemasaran Krakatau Steel Purwono Widodo menjelaskan bahwa hot rolled coil (HRC) masih menjadi produk andalan perseroan. Penjulan komoditas itu naik sekitar 46%-49% secara tahunan pada semester I/2018.

Di sisi lain, Purwono menyebut terjadi kenaikan harga penjualan rata-rata pada semester I/2018. Pihaknya mencontohkan harga HRC yang naik sebesar 12%. Dengan demikian, dia mengklaim emiten berkode saham KRAS itu berhasil mencatatkan kenaikan volume penjualan hingga 25% secara pertahun pada semester I/2018.

 “Volume penjualan semester I/2018 naik dibandingkan dengan semester I/2017 dengan kisaran 22%-25%,” ujarnya kepasa Bisnis, Kamis (19/7).

Sebagai catatan, KRAS membidik volume penjualan 2,8 juta ton pada 2018. Target tersebut naik 40% dibandingkan dengan target yang dipasang pada tahun lalu.

Optimisme tersebut sejalan dengan proyek kebutuhan baja domestik mengalami pertumbuhan 1 juta ton tiap tahunnya. Pada 2016, total permintaan dari dalam negeri sebanyak 12,5 juta ton.

Purwono mengatakan, perseroan memperkuat kembali sistem distribusi produk. Strategi tersebut diwujudkan dengan menambah distributor atau agen penjualan.

Pada semester I/2018, sambungnya, KRAS telah meningkatkan fungsi cabang di Surabaya, Jawa Timur. Sementara itu, penambahan distributor akan dilakukan pada semester II/2018. “Menghadapi pasar yang kompetitif, produk KS (Krakatau Steel) harus semakin mudah diperoleh atau dipesan,” jelasnya.

Dia berharap pemerintah dapat mengambil tindakan atas maraknya impor baja paduan hot colled coil, cold rolled coil, dan wire rod. Pasalnya, komoditas tersebut diperdagangkan dengan harga yang tidak wajar. “Termasuk juga produk baja hilir seperti coated sheet dan pipa baja,” imbuhnya.

Di sisi lain, analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama menilai, permintaan baja secara nasional masih mengalami pertumbuhan. Hal itu seiring dengan pembangunan infrastruktur yang masih terus berlangsung.

“Kondisi ini memberi peluang besar bagi KRAS untuk meningkatkan kinerja penjualan produk baja,” paparnya.

Nafan masih memberikan rekomendasi beli untuk saham KRAS. Adapun, target harga jangka menengah hingga panjang berada pada level Rp650 dan Rp775.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham KRAS mengalami koreksi 8 poin atau 1,92% ke level Rp408 pada penutupan perdagangan, Kamis (19/7). Sepanjang periode berjalan 2018, pergerakan tercatat negatif 3,77%. (M. Nurhadi Pratomo)

sumber : Bisnis Indonesia, 20 Juli 2018

 Dilihat : 1291 kali