30 April 2019
Transformasi Bisnis dan Keuangan untuk Perbaikan Kinerja Krakatau Steel

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melakukan transformasi bisnis dan keuangan dengan harapan dapat memperbaiki kinerja Perseroan di tahun 2019.

Cilegon (30/04). Pada tahun ini Krakatau Steel telah menandatangani kesepakatan Transformasi Bisnis dan Keuangan dengan Himpunan Bank Negara (Himbara) pada 22 Maret 2019. Kesepakatan ini dilakukan sebagai inisiatif untuk perbaikan kondisi keuangan dan restrukturisasi hutang. Beberapa langkah transformasi bisnis yang akan dilakukan diantaranya penaataan kembali hutang perseroan, pelaksanaan Operational Excellence, divestasi kepemilikan saham Perseroan pada Anak Perusahaan Perseroan, penerbitan Convertible Bond, dan penerbitan saham baru (Rights Issue). Langkah ini telah mendapat persetujuan RUPS tanggal 26 April 2019 lalu.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menyatakan akan memperbaiki keadaan ini segera dengan strategi Transformasi Bisnis dan Keuangan yang saat ini sudah mulai berjalan. “Kami harap dalam waktu dekat sudah mulai kelihatan hasilnya dan kondisi ini bisa berbalik menjadi lebih baik,” ujarnya.

Krakatau Steel saat ini pun sudah menyelesaikan 93,73% konstruksi fisik dari pabrik Hot Strip Mill #2 (HSM#2) per 31 Maret 2019. Pabrik ini diproyeksikan mampu memproduksi produk HRC sebanyak 1,5 juta ton per tahun sehingga dapat meningkatkan volume penjualan terutama untuk produk Hot Rolled Coil (HRC). Pabrik ini direncanakan akan selesai pembangunannya pada Q2 2019.

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mengalami penurunan pendapatan sebesar 13,82% Year on Year (YoY) pada periode Q1 2019 sebesar US$419 juta dibandingkan pendapatan Q1 tahun 2018 sebesar US$486,2 juta. Hal ini akibat dari penurunan volume penjualan dan penurunan harga produk baja secara global. Harga HRC per ton tertinggi tercapai US$755 di Januari 2019 dan terendah US$554 di bulan Maret 2019 walaupun secara keseluruhan harga HRC berkisar antara US$650 – US$700 pada Q1 2019.

Walaupun secara umum terjadi penurunan volume penjualan 11,97% YoY menjadi 529.114 ton, termasuk diantaranya penurunan volume penjualan Cold Rolled Coil (CRC) 35,67% YoY menjadi sebesar 103.219 ton dan penurunan volume penjualan Wire Rod 77,30% YoY menjadi 8.644 ton, namun volume penjualan HRC meningkat 8,11% YoY sebesar 355.546 ton. Fokus penjualan Krakatau Steel memang akan diprioritaskan pada produk HRC terlebih dengan akan segera beroperasinya HSM#2. Penurunan volume penjualan ini pun diiringi dengan penurunan harga jual produk termasuk HRC 2,24% YoY menjadi US$643 per ton dan Wire Rod 3,14% YoY menjadi US$612 per ton, namun tidak demikian dengan CRC yang meningkat 5,13% menjadi sebesar US$739 per ton.

Penurunan penjualan ini berpengaruh pada laba kotor sebesar US$11,75 juta, menurun dibanding periode sebeleumnya sebesar US$66,79 juta. Sementara rugi operasi Perseroan mencapai US$36,2 juta pada Q1 2019 dibanding dengan periode yang sama tahun lalu yang mencatat laba operasi US$21,2 juta. Penurunan kinerja operasi ini dipengaruhi oleh lebih tingginya biaya operasi selama periode berjalan.

“Kami akan terus menggenjot volume penjualan baja domestik diiringi peningkatan target untuk ekspor produk baja mulai tahun ini, terlebih Indonesia saat ini dapat dengan leluasa mengekspor produk baja ke Malaysia. Semoga peningkatan target eskpor ke beberapa negara dan kerja sama steel trading dengan beberapa rekanan dapat membantu menaikkan volume penjualan di tahun 2019 ini,” tambahnya.

Kondisi dan situasi pasar mulai kondusif dengan adanya peningkatan harga produk material baja di pasar masing-masing negara. Namun “Era Proteksionisme” global pada industri baja saat ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang juga harus dihadapi. “Dengan kebijakan perdagangan yang mulai berpihak pada pasar domestik dan dengan adanya peningkatan pendapatan Anak Perusahaan maupun afiliasi setelah restrukturisasi Anak Perusahaan Perseroan, maka kami yakin kondisi ini akan berangsur pulih dan kami dapat kembali memperbaiki kinerja kami,” pungkas Silmy.

Sebagai catatan, dari Januari hingga Desember 2018, permintaan produk baja di Indonesia cenderung meningkat dengan adanya peningkatan di sektor industri yang menggunakan material baja. Diantaranya sektor otomotif yang meningkat 7.99% dengan jumlah produksi mobil sebesar 1.152.641 unit per tahun (Gaikindo, Januari 2019). Hal ini diikuti dengan sektor konstruksi dan infrastruktur yang juga diproyeksikan akan semakin meningkat di tahun 2019.


Sekilas PT Krakatau Steel (Persero) Tbk

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk merupakan produsen baja terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 3,15 juta ton per tahun. Perseroan resmi berdiri pada 1970 diberikan mandat untuk memenuhi kebutuhan baja nasional. Perseroan resmi tercatat sebagai Perusahaan publik dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2010 dengan melepas kepemilikan saham ke publik sebesar 20%. Nilai aset Perseroan per 31 Desember 2018 mencapai USD4,29 miliar.

 Dilihat : 9288 kali