21 Dessember 2018
Blast Furnace Krakatau Steel Mulai Dinyalakan

Cilegon (20/12) – Pabrik Blast Furnace PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dinyalakan. Penyulutan api pertama dilakukan oleh Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Straegis dan Media Fajar Harry Sampurno, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim, Komisaris Krakatau Steel Nana Rohana, Vice President MCC CERI Xue Qing Bin, dan Set dirjen ILMaTE kemenperin Dody Rahardi, dan Vice President Corporate 5 Group Bank Mandiri M Andi Syafrizal Indrawan.

Silmy mengatakan, dengan beroperasinya pabrik Blast Furnace di PTKS akan menambah fasilitas iron making atau tahap hulu bertambah. “Ini merupakan suatu awal dari rangkaian usaha Perseroan untuk meningkatkan daya saing di sektor hulu, dimana Fasilitas Blast Furnace merupakan teknologi berbasis batu bara. Penggunaan batu bara ini juga akan meningkatkan fleksibilitas penggunaan energi serta mengurangi ketergantungan terhadap gas alam yang yang diproyeksikan yang akan terus mengalami kenaikan harga dan keterbatasan”, ungkap Silmy.

Sementara Fajar Harry Sampurno mengatakan kita berharap industri dalam negeri mampu mengisi kebutuhan baja dalam negeri yang mencapai 15 juta ton. "Namun masih ada PR besar lagi setelah ini bagi Krakatau Steel yakni untuk membangun kluster 10 juta ton baja di Cilegon", ujarnya.

Pabrik Blast Furnace yang berdiri pada area Blast Furnace Complex PTKS seluas 55 Ha ini merupakan proyek yang dilakukan oleh Konsorsium kontraktor yang terdiri dari MCC CERI dari China dan PT Krakatau Engineering (PTKE).

Dalam Blast Furnace Complex, juga terdapat Sinter Plant yang memiliki kapasitas 1,7 juta ton per tahun, Hot Metal Treatment Plant dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun, Coke Oven Plant dengan kapasitas 555 ribu ton per tahun. Sebagai penunjang, terdapat Raw Material Handling (Stockyard) yang mampu menampung 400 ribu ton per tahun.

Lebih lanjut Silmy mengatakan, Pabrik Blast Furnace mampu menghasilkan 1,2 juta ton hot metal per tahun. “Penggunaan hot metal akan mengurangi biaya produksi di steel making, utamanya dengan menurunkan konsumsi listrik di proses steel making (EAF) karena bahan baku hot metal dimasukkan dalam bentuk cair pada temperatur tinggi (± 1.200oC). Selain itu adanya hot metal dalam proses peleburan dapat menurunkan konsumsi elektroda”, lanjut Silmy.

Pembangunan Blast Furnace juga akan membuat keseimbangan kapasitas hulu (iron & steel making) dengan hilir (rolling mill)  sehingga mengurangi ketergantungan pada slab impor.

Sementara dalam hal melakukan ekspansi kapasitas di hilir, Krakatau Steel juga sedang membangun pabrik hot strip mill #2 yang akan beroperasi pada 2019 mendatang. Dengan adanya pabrik ini akan didapatkan tambahan kapasitas sebesar 1,5 juta ton baja lembaran panas atau HRC.

 Dilihat : 1124 kali