28 September 2018
Pemerintah Dorong BUMN Genjot Ekspor

Pemerintah mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk meningkatkan ekspor produknya. Hal itu sangat penting dilakukan ketika nilai tukar rupiah ditekan oleh dolar Amerika Serikat (AS).

Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementrian BUMN Fajar Harry Sampurno mengungkapkan, pihaknya telah membahas kondisi ini dengan perusahaan yang berada di bawah naungannya. BUMN yang bergerak di industri strategis perlu meningkatkan daya saing dan menggenjot produksi.

“Kami berusaha untuk terus mendorong ekspor produk BUMN terutama yang bergerak di bidang industri strategis,” katanya.

Upaya itu dilakukan demi memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Perlu diketahui, sampai Rabu (26/9), nilai tukar rupiah secara rata-rata berada di level Rp 14.911,45 per dolar AS. Ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) menjadi pendorong penguatan dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 10,19 persen. Karena itu diharapkan BUMN bisa menyikapi kondisi ini salah satu caranya dengan meningkatkan kualitas produk untuk diekspor.

Perusahaan pelat merah di bidang industri strategis yang telah berkomitmen mengekspor produknya pada tahun ini antara lain PT Pindad, PT Krakatau Steel Tbk, PT Industri Kereta Api (INKA), PT Barata Indonesia, dan PT Dirgantara Indonesia.

“Komitmen ekspor tersebut akan tetap kami jaga demi mendukung penguatan rupiah,” tutur dia.

Untuk tahun ini saja, dia bilang Pindad memproyeksikan dapat mengekspor produk senjata, amunisi dan kendaraan tempurnya ke Thailand, Brunei, Myanmar, Korea Selatan, Prancis serta untuk mendukung misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Nilai yang ditargetkan dalam ekspor itu mencapai Rp 78 miliar.

Sedangkan PT INKA disebut telah meimiliki kontrak ekspor kereta dengan Filipina dan Bangladesh dengan nilai masing-masing mencapai Rp 1,36 triliun dan Rp 126 miliar.

Lalu, PT Krakatau Steel menargetkan ekspor baja hot rolled coil ke Malayasia dan Australia akan mencapai Rp 907miliar pada 2018.

Sementara, Barata Indonesia akan mengekspor komponen dengan target nilai mencapai Rp 210 miliar.

“Yang akan diekspor Barata yaitu komponen perkerataapian ke Amerika, Afrika dan Australia,” sebutnya.

Ada pula PT Dirgantara Indonesia yang berkomitmen ekspor pesawat terbang jenis NC212i ke Filipina dengan nilai PHP 813 juta dolar AS.

sumber : Rakyat Merdeka (27/9)

 Dilihat : 1418 kali