07 September 2018
Krakatau Steel Optimis Capai Untung di 2018

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mencatatkan peningkatan volume penjualan sebesar 24,44% pada semester I-2018. Hal ini berpengaruh pada peningkatan pendapatan Perseroan sebesar 34,75% menjadi USD854,27 juta. Perseroan pun membukukan laba operasi sebesar USD9,34 juta pada periode yang sama. Peningkatan dan usaha perbaikan terus dilakukan untuk pencapaian untung di 2018.

Jakarta (6/9). Di tengah ketatnya persaingan bisnis baja, Perseroan mampu mencatatkan peningkatan volume penjualan sebesar 24,44% pada semester I 2018 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun demikian, peningkatan volume impor baja tetap perlu menjadi perhatian Perseroan, industri baja nasional dan Pemerintah. Hal ini dipaparkan dalam acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Balai Kartini pada Kamis, 6 September 2018.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I 2018 sebesar 5,17% telah mendorong peningkatan konsumsi baja nasional sebesar 5,51%. Disisi lain, peningkatan harga baja global telah mendorong peningkatan harga baja di pasar domestik. Hal ini berpengaruh pada peningkatan pendapatan Perseroan sebesar 34,75% menjadi USD854,27 juta dari sebelumnya USD633,98 juta.

“Ini adalah momentum kebangkitan Krakatau Steel. Saat ini Krakatau Steel berada dalam posisi yang on the track, karena saat ini kinerja Krakatau Steel sudah membaik sehingga di akhir tahun ini bisa meraih untung. Selain itu fokus kami di jajaran direksi adalah untuk segera menyelesaikan proyek-proyek strategis Krakatau Steel agar segera dapat memberikan kontribusi positif kepada perusahaan,” ujar Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Mas Wigrantoro Roes Setiyadi.

Di sisi internal, Perseroan telah dan terus melakukan berbagai upaya perbaikan kinerja untuk menjadikan Perseroan sehat dan tumbuh secara berkesinambungan diantaranya melalui meningkatkan likuiditas, menyelesaikan proyek strategis, transformasi sales dan marketing, program efisiensi biaya melalui pola operasi yang optimal, optimalisasi aset, dan restrukturisasi keuangan, sehingga pada semester I 2018 Perseroan dapat membukukan laba operasi sebesar USD9,34 juta, naik lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD4,44 juta.

Mas Wigrantoro menyatakan kinerja Perseroan di semester I tahun 2018 menunjukan perbaikan yang signifikan. Efisiensi dan pembenahan dari Perseroan juga mampu meningkatkan laba usaha dan menurunkan angka kerugian dengan signifikan. “Kami optimis dapat mencapai untung di tahun 2018. Pada 2017 saja, efisiensi yang berhasil didapat dari logistik seperti pengadaan gas, bahan baku dan lainnya itu mencapai USD10 juta," tambahnya.

Dalam rangka menjaga kesinambungan bisnis kedepan, Perseroan terus melakukan berbagai program strategis diantaranya menyelesaikan pembangunan fasilitas produksi yang sedang dikerjakan, menata portofolio bisnis entitas anak dan entitas asosiasi, serta melaksanakan berbagai program sinergi BUMN, yang seluruhnya diharapkan mampu meningkatkan kinerja Perseroan di tahun-tahun mendatang.

Pada 29 Agustus yang lalu Perseroan telah meresmikan proyek di PT Krakatau Tirta Industri yakni Bendung Cipasauran. Proyek ini menjadikan anak perusahaan Krakatau Steel yang bergerak di bidang pengolahan air bersih industri akan meningkatkan kapasitas sebesar 40% menjadi 2400 liter per detik.

Sebelumnya, pada 7 Agustus yang lalu juga telah diresmikan secara komersial pabrik baja patungan antara Perseroan dengan Nippon Steel & Sumitomo Metal Jepang yaitu PT Krakatau Nippon Steel Sumikin yang berkapasitas 480.000 ton per tahun. Pabrik ini akan memproduksi baja khusus yang didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan industri otomotif yang saat ini hampir sebagian besar diimpor.

Sementara itu untuk perkembangan proyek strategis, pembangunan pabrik Hot Strip Mill #2 sudah mencapai 78,17% per Juni 2018 dan diproyeksikan akan selesai pada April 2019 (First Coil). Sedangkan untuk proyek Blast Furnace, Perseroan sudah menyelesaikan pencapaian proyek sebesar 99,51% per Juni 2018 dan disiapkan untuk First Blow In (FBI) pada Desember 2018.

Diharapkan ke depan dengan pembangunan dermaga 7.1 dan 7.2 oleh PT Krakatau Bandar Samudera yang akan selesai pada Januari 2019 dan pembangunan PLTU batu bara 1x150 MW oleh PT Krakatau Daya Listrik yang akan selesai pada Oktober 2021 akan menjadi kontribusi positif anak perusahaan terhadap Perseroan.

Potensi Basar Baja

Dari sisi penjualan, Market Share produk baja Krakatau Steel yang paling tinggi adalah Hot Rolled Coil/HRC (Baja Canai Panas) sebesar 39%, Cold Rolled Coil/CRC (Baja Canai Dingin) sebesar 27%, dan Wire Rod/WR (Baja Kawat) sebesar 4% untuk pasar domestik. Volume penjualan tertinggi adalah HRC sebesar 53%, CRC 30% dan WR 3% di tahun 2017.

Mengutip dari World Economic Outlook, IMF (April 2018) Perekonomian dunia diproyeksikan bertumbuh positif hingga 2019. Negara-negara berkembang termasuk Indonesia diproyeksikan mengalami peningkatan laju pertumbuhan ekonomi positif hingga mencapai 5,50% di 2019 dari sebelumnya 5,07% di 2017. Namun, Tiongkok diperkirakan mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang menurun hingga 2019. Selain itu, data dari South East Asia Iron & Steel Institute (SEAISI), menyebutkan bahwa Konsumsi baja domestik sepanjang tahun 2009 – 2017 mengalami pertumbuhan dengan CAGR 7,9%.

“Namun demikian, sebagian kebutuhan baja masih dipenuhi oleh impor. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan RI, total defisit neraca perdagangan baja mencapai USD30,2 miliar selama lima tahun terakhir, sehingga kami masih harus menghadapi banyak tantangan di sisa waktu 2018 ini,” ungkap Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Purwono Widodo.

Sekilas PT Krakatau Steel (Persero) Tbk

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk merupakan produsen baja terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 3,15 juta ton per tahun. Perseroan resmi berdiri pada 1970 diberikan mandat untuk memenuhi kebutuhan baja nasional. Perseroan resmi tercatat sebagai Perusahaan publik dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2010 dengan melepas kepemilikan saham ke publik sebesar 20%. Nilai aset Perseroan per 31 Desember 2017 mencapai USD4,11 miliar.

 Dilihat : 1129 kali