27 Agustus 2018
Pengendalian Harga Material - Krakatau Steel Suplai Baja Ke Lombok

JAKARTA – Pt.Krakatau Steel (Persero) Tbk. Bersama dengan industry baja lapis mengirim 20 ton baja lembaran ke Nusa Tenggara Barat untuk menstabilkan harga dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terkenda dampak gempa.

Purwono Widodo,Direktur Marketing PT.Krakatau Steel (KS),menuturkan bahwa pihaknya berkolaborasi dengan beberapa pabrikan baja lapis dan distributor KS seperti PT.Fumira,PT Inti Sumber Baja sakti serta PT.Kepuh Kencana Arum dari PT. Sunrise Group untuk menyediakan baja lapis. Tambahan pasokan ini bersifat bantuan. Pada saat yang sama,KS melalui jaringannya juga menambah pasokan bagiwilayah terdampak bencana ini.

“Jumlahnya 7.500 lembar baja lapis yang akan disalurkan kepada pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk digunakan sebagai material atap baja ringan”kata Purwanto,Jumat (25/8).

Dia Menyatakan bahwa material baja ini mulai diberangkatkan pada Kamis (24/8) menggunakan pesawat airbus A400M Atlas. Pesawat ini merupakan bantuan dari pemerintah Prancis dalam penganggulan bencana Lombok.

Purwono menambahkan, pada saat awal bencana terjadi ,harga baja lembaran untuk atap sempat melonjak karna banyak agen dan took besi yang tutup atau rusak akibat gempa. PT.KS bersama distibutornya segera berkoordinasi dengan agen-agen di Lombok untuk menurunkan harga tersebut.

“Secara Paralel para distributor juga menyiapkan pasokan baja lembaran dari stok di gudang-gudang di Surabaya. Upaya ini telah berhasil menurunkan dan mengembalikan harga baja lembaran,” katanya.

PT.Krakatau Steel (Persero) Tbk. Menargetkan dapat menjual 2,8 juta ton baja hingga akhit tahun 2018.

Mas Wigrantoro Roes Setiyadi,Direktur Utama Krakatau Steel (KS), menuturkan target ini naik 40% dibandingkan target 2017. Pihaknya akan bekerja keras untuk merealisasikan target ini sehingga pada akhir tahun perusahaan dapat mencatatkan laba.

“Jika tahun ini laba,tahun-tahun mendatang lebih mudah menjaganya,” kata Mas Wigrantoro.

Dia menyebutkan , hingga semester I/2018 penjualan perusahaan telah tumbuh 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) potensi permintaan baja di dalam negeri akan terus tumbuh.Diprediksi kebutuhan baja per kapita akan naik menjadi 85 Kilogram per kapita pada tahun 2020 dari saat ini 65 kilogram per kapita.

Sementara Itu, sepanjang 7 bulan pertama tahun ini ,impor baja melonjak 36%. Pengusaha meminta pemerintah segera mengendalikan situasi ini dengan menghentikan impor produk yang bisa di produksi di dalam negeri.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), impor besi dan baja tercatat US$996,2 juta pada bulan Juli 2018 atau naik 56,55% secara tahunan. Secara Kumulatif ,sepanjang Januari-Juli 2018, nilai impor produk US$5,67 miliar.

Nilai impor besi dan baja menempati  posisi ketiga terbesar, di bawah produk mesin dan pesawat mekanik serta produk mesin dan peralatan listrik.

Ismail Mandry, Wakil Ketua asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA),sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya terus menyuarakan agar pemerintah segera menerbitkan kebijakan yang bisa membatasi impor.

Sumber : Bisnis Indonesia, 27 Agustus 2018

 Dilihat : 1070 kali