11 Juli 2017
Strategi Perusahaan - Krakatau Steel Bidik Proyek Strategis Nasional

Jakarta-Produsen Baja Pelat Merah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. mengincar pengerjaan sejumlah proyek strategis nasional utuk mendongkrak kinerja penjualan baja.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.Purwono Widodo menyatakan perseroan membidik tender pengadaan material sejumlah proyek strategis nasional yang membutuhkan komoditas baja dalam jumlah besar.

"Bisa dibilang penjualan Krakatau Steel hampir seluruhnya bertumpu ke pengerjaan proyek pemerintah," ujar Purwono ketika ditemui di Kementerian Perindustrian, Senin (10/7).

Salah satu Proyek strategis yang menopang kinerja penjualan itu merupakan proyek revitalisasi kapasitas kilang Cilacap milik Pertamina. Menurutnya, proyek itu setikdaknya membutuhkan material baja Hot Rolled Coil sebanyak 60.000 ton. "Dari situ kita bisa meningkatkan angka penjualan di segmen pipa baja,"

Disamping itu, perseroan memasok baja untuk pembangunan proyek jalan tol berbasis baja Jakrta-Cikampek elevated sepanjang 64 kilometer. Proyek itu membutuhkan material baja lebih dari 200.000 ton sebagai pengganti beton.

"Sekarang kami kerja sama dengan KAI memasok baja untuk elevated railway dengan konsep yang kurang lebih sama. Terutama untuk proyek proyek LRT dan reaktivasi jalur kereta Ciwidey - Bandung," ujar Purwono.

Di samping itu, perseroan juga tengah mengikuti tender pengadaan baja konstruksi pelabuhan Kuala Tanjung. Proyek itu diperkirakan setidaknya membutuhkan pasokan sebanyak 40.000 ton baja. Krakatau Steel juga memasok baja untuk pengerjaan jaringan pipa gas Duri-Dumai yang digarap PT Pertamina dana PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN).

PASOK BAJA

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meminta Posco, Produsen baja asal Korea Selatan, agar mulai menyusun rensana investasi baja hilir. Saat ini, Posco memiliki rencana pemngembangan baja hulu bersama Krakatau Steel sebanyak 6 juta ton.

Hal tersebut merupakan hasil pertemuan Airlangga dengan Posco di Korea Selatan, pekan lalu. Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) I Gusti Putu Suryawirawan menyampaikan impor baja hilir Indonesia masih cukup besar.

"Kemarin kami minta konfirmasi merak untuk fase kedua yang 3 juta ton lagi. Harus dibicarakan untuk tahap berikutnya, bagaimana agar terintegrasi ke hilir. Kami minta mereka untuk punya plant baru," kata Putu di Jakarta, Senin (10/7).

Putu menyampaikan selain menguntungkan Posco karena peningkatan nilai tambah baja, ekspansi perusahaan tersebut hingga ke hilir juga dapat menggantikan impor seluruh jenis baja yang tahun lalu nilainya mencapai 8 juta ton.

Saat ini Posco memiliki perusahaan patungan dengan Krakatau Steel, PT Krakatau Posco. Posco akan mengembangkan baja slab dan plate selama dua fase dengan volume masing-masing sebesar 3 juta ton. Baja tengah tersebut diharapkan dapat diolah langsung menjadi baja hilir.

"Kami minta untuk secepatnya masuk hilir agar suplai dan demand tidak jomplang. Makanya kami segera bahas produksi sampai hilirnya, bagaimana strateginya agar secepatnya terealisasi," Jelas Putu.

Krakatau Posco akan mewujudkan klaster baja 10 juta ton di Cilegon hingga 2025. Pada 2019, Krakatau Posco akan mengoperasikan pabrik hot strip mill 2 yang akan menambah kapasitas produksi menjadi 4,5 juta ton dari saat ini 3 juta ton. (N. Nuriman Jaya buana/Dara Aziliya)

sumber : Bisnis Indonesia, 11 Juli 2017

 Dilihat : 680 kali